Kumpulan Artikel Kami

Wednesday, February 7, 2018

Ketika Rasulullah Harus Membayar Diyat 100 Ekor Unta Untuk Seorang Yahudi.


Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat bagi alam semesta, bukan hanya bagi Umat Muslim. Dan apabila menghadapi suatu perkara, beliau selalu mengutamakan Tabayun. Tidak perduli dengan orang-orang Non-Muslim.

Tabayun artinya meminta penjelasan atau mengklarifikasi sebuah informasi sebelum bertindak terhadap informasi yang diterima. 

Qs. Al-Hujarat Ayat 6 meminta kita melakukan Tabayun jika seorang fasiq membawa berita: 
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
  • Tapi bagaimana kalau kejadiannya menimpa orang non-Muslim? 
  • Apakah kita harus Tabayun juga? 
Mari simak kisah di bawah ini, yang saya ringkaskan dari riwayat yang tercantum dalam :

  • Kitab Sahih Bukhari, 
  • Kitab Sahih Muslim, dan 
  • Kitab-kitab lainnya.
Dalam masa perdamaian antara Nabi Muhammad SAW dengan kaum Yahudi, Abdullah Bin Sahl & Muhayyishah pergi ke perkampungan Khaybar.

Keduanya berpisah sesuai keperluan masing-masing, dan kemudian Muhayyishah menemukan Abdullah Bin Sahl bersimbah darah, sudah meninggal dunia di sumur.

Muhayyishah menuduh Kaum Yahudi yang membunuh Abdullah Bin Sahl karena mereka berada di perkampungan Yahudi. Kaum Yahudi membantahnya.

Singkat cerita Muhayyishah pulang dan menemui saudaranya Huwayshah yang lebih tua dan Abdullah Bin Sahl (Saudara Almarhum). Mereka menemui Nabi Muhammad.

Muhayyishah hendak bebricara, namun Nabi Muhammad SAW meminta yang lebih tua yang lebih dahulu berbicara.

Huwayshah memulai pembicaraan disambung dengan Muhayyishah. Intinya mereka menuntut keadilan.

Mendengar kisah ini, apakah Nabi Muhammad SAW langsung menggerakkan pasukan ke perkampungan Kaum Yahudi?

Tidak.

Nabi Muhammad SAW melakukan proses tabayun atas tuduhan serius ini denga mengirim surat. 

Kaum Yahudi menjawab dengan mengatakan bahwa mereka tidak membunuh Abdullah Bin Sahl.

Atas bantahan itu, Nabi Muhammad SAW meminta Muhayyishah bersumpah.

Namun Muhayyishah menolak karena memang dia tidak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Abdullah Bin Sahl dibunuh Yahudi.

Bisa saja kan, dia terjatuh dari untanya saat mau meminum dari sumur.

Masalah menjadi pelik karena kabar hanya dari satu orang yaitu Muhayyishah, yang bukan saja hanya berjumlah satu orang (tidak mencukupi syarat dua saksi) dan juga tidak mengetahui persis kejadiannya.

Satu-satunya indikasi untuk menuduh Yahudi adalah peristiwanya terjadi di perkampungan Yahudi.

Namun ini tidak cukup kuat, apalagi sudah dbantah oleh Kaum Yahudi.

Opsinya adalah mengambil Diyat (denda atas pembunuhan) atau memerangi Yahudi untuk menuntut balas.

Yang mana yang Nabi Muhammad SAW akan ambil?

Kalau diyat, tentu yang membunuh yang harus membayar.

Tapi siapa pembunuhnya?

Kalau Yahudi yang membunuh dan mereka menolak membayar diyat, maka bisa diperangi, tapi benarkah Yahudi yang membunuh Abdullah Bin Sahl?

Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya,
"Jikalau 50 orang Yahudi bersumpah tidak membunuh, apakah kalian akan menerimanya?" 
Muhayyishah mengatakan,
"Bagaimana kami bisa menerima sumpah dari non-Muslim? Kalau mereka berbohong bagaimana?"
Deadlock. Jalan buntu.

Pihak Muhayyishah menuntut keadilan, Yahudi membantah dan bayang-bayang peperangan di depan mata.

Nabi Muhammad SAW mengambil keputusan yang luar biasa:
Beliau Nabi Muhammad SAW memutuskan, beliau sendiri yang membayar diyat (denda) 100 ekor unta kepada keluarga Abdullah bin Sahl. 
Nabi Muhammad SAW rugi karena membayar dengan untanya sendiri akan tetapi peperangan bisa dihindarkan.

Begitulah sosok Nabi Muhammad SAW yang agung yang rela berkorban demi perdamaian.
Pelajaran penting dari kisah di atas:

  1. Zaman dahulu proses pembuktian itu sederhana: lewat saksi dan sumpah. Tidak seperti sekarang yang bisa diinvestigasi oleh polisi, tes DNA, dan menyimak rekaman CCTV. Pada masa Nabi Muhammad SAW modalnya adalah kepercayaan yang dibuktikan lewat sumpah dan kesaksian. Namun kalau proses pembuktian ini gagal, bagaimana? Nabi Muhammad SAW menyerahkannya kepada Allah.
  2. Nabi Muhammad SAW mengajarkan etika untuk mendahulukan yang lebih tua untuk berbicara. Meskipun Muhayyishah yang lebih tahu, tapi biarkan yang lebih tua bicara dahulu. Ini adab kesantunan. Setelah itu baru Muhayyishah yang lebih paham kejadiannya yang berbicara.
  3. Nabi Muhammad SAW menjalankan proses tabayun kepada pihak Yahudi. Tidak gegabah mengambil keputusan berdasarkan emosi atau kebencian. Nabi Muhammad SAW yang agung ini berhati-hati mengambil keputusan sebelum mendengar dari semua pihak yang terlibat.
  4. Ketika semua jalan telah buntu (saksi, sumpah, tabayun), Nabi Muhammad SAW memilih mengalah dengan tekor alias rugi membayar 100 unta sebagai diyat. Padahal jelas Nabi bukan pelaku tindak pidana. Nabi Muhammad SAW hanya hendak menjaga perdamaian dan menghormati perjanjian keamanan dengan pihak Yahudi saat itu. Biarlah pemimpin tekor, rugi, dan mengalah, demi perdamaian.
Demikianlah kisah sederhana yang terjadi di masa Rasulullah SAW.
---------------------------------------------------------------------------------

No comments:

Post a Comment

Kami harapkan artikel yang ada dapat bermanfaat bagi pembaca setia kami. Kami Harapkan saran dan kritik yang membangun atas artikel maupun blog kami. Dan jangan lupa berlangganan artikel kami. Terima Kasih

Ttd.
Admin Blog Kartar Mahameru RT.15 RW.02 Kel. Jepara Surabaya